Kisah Penuh Haru Rumini Berserta Ibunya Saat Semeru Memuntahkan Awan Panas di Candi Puro Lumajang

Kisah Pilu Guguran Semeru
LUMAJANG, Komandonews – Indonesia kembali berduka saat gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur meletus dan memuntahkan awan panas juga lahar dingin, letusan yang disertai awan panas tersebut menyapu desa-desa yang ada disekitar lereng gunung merapi tersebut pada Sabtu 24 Desember 2021.

Muntahan awan panas yang keluar dari gunung tersebut begitu dahsyat, hingga banyak menenggelamkan rumah-rumah yang ada, dan sebagian hingga rusak parah dan tidak dapat dihuni kembali oleh warga. Selain harta benda juga hewan peliharaan banyak warga yang tak dapat menyelamatkan diri pada saat terjadinya letusan pada hari Sabtu sore tersebut.

Tidak adanya peringatan dini saat kejadian membuat banyak warga yang terjebak dalam letusan awan panas tersebut dan disertai lahar dingin, letusan Semeru yang tiba-tiba disertai semburan awan panas itu menelan banyak korban jiwa. Baik di permukiman warga juga areal sungai, yang pada saat kejadian banyak warga setempat yang beraktifitas menambang pasir di sungai. yang memang sungai tersebut adalah aliran dari Gunung Semeru.

Guguran awan panas yang disertai banjir lahar dingin dari kawah Semeru itu banyak menelan korban jiwa yang hingga kini masih belum diketemukan, para Relawan baik BASARNAS TNI juga POLRI diterjunkan untuk mencari para korban yang hilang dan hingga saat ini masih belum diketemukan. Para korban yang saat ini masih belum diketemukan diduga terkubur oleh awan panas Semeru, yang pada saat relawan menemukan korban banyak yang terkubur dan dengan kedalamnya hingga ada yang mencapai 5 hingga 6 meter ditempat-tempat tertentu.

Para warga terdampak yang rumahnya hancur saat ini berada ditenda-tenda pengungsian yang sediakan oleh Pemerintah daerah Lumajang juga Pemerintah pusat, bantuan pun banyak berdatangan baik perorangan atau perusahan dan juga dari seluruh rakyat Indonesia yang perduli akan musibah yang terjadi di Lumajang Jawa Timur.

Dibalik duka yang terjadi di Semeru ada kisah yang sangat menggetar hati dan membuat kita tergugah akan kepatuhan juga kecintaan terhadap orang tua, seorang perempuan berusia 28 tahun yang pada saat awan panas menerjang desa-desa di lereng Semeru. dan di saat warga menyelamatkan diri akan bahaya awan panas tapi ia (Rumini) tetap bertahan demi untuk menjaga ibunya yang sakit dan lanjut usia.

Rumini namanya perempuan ini rela menemani ibunya Salamah, yang berusia 71 tahun saat Erupsi Gunung Semeru menerjang di Lumajang pada hari Sabtu, kecintaan serta rasa sayang dan tak tega untuk meninggalkan ibunya tersebut, ia rela untuk tetap bersama dan tidak menyelamatkan diri dan tetap berada didalam rumahnya demi menjaga orang tuanya hingga awan panas Semeru menerjang permukiman dan merenggut nyawa mereka berdua.

Mungkin saja pada saat kejadian Erupsi awan panas Semeru Rumini ingin menyelamatkan dirinya, namun ia tak tega untuk meninggalkan orang tuanya, guguran awan panas saat kejadian erupsi yang datang begitu cepat, ia beserta ibunya terjebak sehingga ia (Rumini)28 tahun berserta ibunya Salamah 71 tahun tidak dapat menyelamatkan diri hingga akhirnya awan panas Semeru menerjang rumahnya dan wilayah sekitarnya.

Pada saat Tim Basarnas TNI juga POLRI dan Relawan menyisir tempat-tempat kejadian Erupsi awan panas Semeru, dengan mendatangi rumah-rumah disekitar akibat guguran awan panas Semeru, Tim menemukan jasad 2 (dua) orang wanita yang pada saat diketemukan dalam keadaan berpelukan. dan setelah Tim membawa jasad keduanya dan setelah di identifikasi oleh pihak rumah sakit ternyata jasad tersebut adalah Rumini 28 tahun dan ibunya Salamah yang berusia 71 tahun.

Berita tantang Rumini yang sangat mengharukan ini bukan saja manjadi buah bibir di tanah air akhir-akhir ini, bahkan berita tentang perjuangan seorang anak dan orang tuanya ini telah tersiar di media luar negeri dan menjadi topik hangat tentang pengabdian seorang anak yang begitu berbakti serta kecintaannya dan rela menjaga ibunya hingga maut menjemput. (Rumini) ia rela mengorbankan hidupnya demi menjaga seorang ibu yang telah melahirkan serta membesarkannya hingga ajal menjemputnya.

Dari kisah Rumini kita dapat mengambil hikmah dari kejadian tersebut, disaat banyaknya berita tentang seorang anak yang menganiaya orang tuanya, menitipkan ke panti jompo, melaporkan ibu kandungnya ke polisi karena warisan dll. Tapi apa yang dilakukan Rumini adalah sesuatu yang diluar pemikiran orang banyak, ia rela mengorbankan dirinya demi untuk menjaganya.

Kita dapat berfikir jika apa yang dilakukan oleh Rumini adalah sesuatu yang salah? yang pasti semua sudah menjadi jalan dan ketentuan yang kuasa. Dan apa yang Rumini lakukan untuk tetap bersama ibunya jarang terjadi di jaman sekarang ini, Dan juga menjadi contoh bagi semua anak-anak agar selalu patuh dan menghormati orang tuanya.
“Wallahua’lam bishawab”

{Red}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.