Komite Advokasi Hukum Indonesia Klarifikasi terkait pemberitaan Salasatu Media

Berita39 Dilihat

SULUT, Komandonews.com – Komite Advokasi Hukum Indonesia bagian Indonesia Timur Chandra E Damopolii menanggapi pemberitaan oleh salasatu media di sulut yang menduga Bencana Banjir di Kabupaten Minahasa Tenggara disebabkan menurunnya tutupan lahan hutan karena aktivitas tambang emas itu tidak benar.(1/7/2024)

Chandra menjelaskan, pertambangan yang beroperasi di Minahasa sudah ada aturannya dan mesti menerapkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

“Tambang kan ada prosedurnya sehingga mendapatkan izin. Nah bagaimana TJSL-nya, pasti ada kewajibannya. Jadi itu ada aturannya sendiri dari kementerian,” kata Chandra

Namun Chandra menegaskan hal ini akan menjadi atensi tanpa menuding satu pihak tertentu. Menurut dia, tanggung jawab menjaga lingkungan merupakan program yang harus ditingkatkan semua pihak.

“Pasti kami, menyangkut semua hal dengan assessment kita terhadap lingkungan ini,” jelasnya

“Nah, soal kawasan itu ada perusahaan, kebun-kebun warga, lahan pertanian warga, ini harus kita komunikasikan. Karena paling luas justru tempat hidupnya warga. Makanya ini saya bilang harus ada program tanggap darurat lingkungan,” lanjut Chandra.

Chandra juga mengatakan sudah hampir satu bulan ini wilayah Minahasa tenggara khususnya Provinsi Sulawesi Utara terus di guyur hujan terus menerus.

Menanggapi pemberitaan oleh salasatu media yang telah menggiring Opini dan menuding salasatu tambang yang di kelola oleh Bery menjadi penyebab banjir.

“maka dari itu saya Chandra E Damopolii selaku Humas menegaskan Bahwa pemberitaan itu adalah Bohong,” tegasnya

Dikutip dari pemberitaan sebelumnya, Wakil Gubernur Sulawesi Utara Steven OE Kandouw mengingatkan warga mewaspadai cuaca ekstrem yang beberapa hari belakangan ini melanda Provinsi di ujung utara pulau Sulawesi tersebut.

“Menurut BMKG dominasi curah hujan masih tinggi, intensitasnya berada di atas normal,” kata Wagub Steven di Manado,(28/6/2024)

Oleh karena itu dia berharap, warga yang bermukim di sempadan sungai, di lereng-lereng atau lembah agar mewaspadai potensi bencana banjir dan tanah longsor. (Rial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *