Polda Banten Gerebek Pijat Plus-Plus Di Cikupa, 8 Orang Diamankan Oleh Pihak Kepolisian

JAKARTA, Komandonews – Prostitusi berkedok panti pijat di sebuah ruko yang berlokasi di kawasan Citra Raya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, digerebeg personel Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Banten.

Dari dalam ruangan panti pijat plus-plus petugas mengamankan 5 terapis, satu pekerja, dan pasangan suami istri (pasutri) yang juga pengelola panti pijat

Polda Banten tidak mentolerir terjadinya praktek-praktek pelacuran terselubung, dan akan melakukan tindakan tegas dengan undang-undang TPPO,” tegasnya.

Dalam perkara dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ini, dari 8 orang yang diamankan, Polda Banten telah menetapkan tiga orang tersangka yakni berinisial TF (25) karyawan, AK (35), dan RAW (26) pengelola panti pijat.

Kabidhumas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga mengatakan penggerebekan prostitusi berkedok panti pijat oleh Sub Direktorat Remaja, Anak dan Wanita (Renakta) dilakukan pada Rabu (1/12/2021).

“Penyidik juga melakukan penyitaan berupa seprai, kondom bekas dan baru, tisu, buku daftar pelanggan, serta minyak untuk pijat,” kata Shinto Silitonga saat menggelar ekpose di Mapolda Banten, Jumat (3/12/2021).

Shinto mengungkapkan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 8 orang termasuk pengelola, penyidik Subdit Renakta menetapkan 3 orang tersangka.
Tersangka akan dijerat Pasal 2 atau Pasal 10 Undang-Undang nomor 21 tahun 2007 tentang TPPO, dengan ancaman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara,” ungkapnya didampingi Kasubdit Renakta, Kompol Herlia Hartarani

Kabidhumas menambahkan untuk tarif pelanggan panti pijat plus-plus mulai dari Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Pelaku mendapatkan keuntungan Rp100 ribu untuk setiap jam nya.

“Pelaku mencari keuntungan dari para terapis dengan meminta uang kamar Rp100 ribu per jamnya,” tambah mantan Kapolres Gowa.

Dalam kesempatan itu, Shinto Silitonga meminta kepada masyarakat untuk ikut berperan aktif memberikan informasi kepada kepolisian.

“Polda Banten tidak mentolerir terjadinya praktek-praktek pelacuran terselubung, dan akan melakukan tindakan tegas dengan undang-undang TPPO,” tegasnya.

Salah satu tersangka AK mengaku kegiatan prostitusi berkedok panti pijat sudah berlangsung sejak 5 tahun lalu. Dirinya mendapatkan keuntungan dari biaya sewa kamar dari terapis.

“Minimal Rp800 ribu perhari, hanya sewa kamar Rp100 ribu per jamnya,” tandasnya.
(Erwin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.