Militansi Taliban Dan Dinamika Perjuangan Politik Di Afghanistan

Oleh Retno Purwaningtias, S.IP

Komandonews – Afghanistan mengalami krisis setelah Amerika memutuskan untuk menarik pasukan militernya dari wilayah tersebut. Ibu kota Kabul otomatis jatuh ke tangan Taliban, dan ini menandai berbaliknya situasi pasca invasi Amerika ke Afghanistan pada tahun 2001 lalu.

Sejak dulu hingga kini, Afghanistan memang dikenal sebagai negara yang rawan terjadi konflik. Mulai dari perang pertama Anglo-Afgan di pertengahan abad ke-20, hingga peralihan kekuasaan pemerintahan Afghanistan ke Taliban yang terjadi hari ini. Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Afghanistan yang mengawali perjuangan kelompok ini—Taliban—adalah yang terjadi pada saat perang melawan Soviet. (nationalgeographic.co.id, 17/8/2021)

Awal Mula Perjuangan

Dalam buku “Afghanistan: The First Five Years of Soviet Occupation” yang ditulis seorang Diplomat Amerika Serikat untuk Afghanistan pada masa itu, J. Bruce Amstutz, mengabarkan bahwa setelah terjadinya Revolusi Saur—revolusi yang dilakukan oleh sekelompok perwira militer berhaluan komunis—pada tahun 1978, kalangan Islam konservatif melakukan pemberontakan pada pemerintahan boneka karena Soviet masih berusaha menerapkan pemerintahan yang berhaluan Marxis-Leninis (komunis).

Mujahidin mendapat banyak dukungan, termasuk dukungan dari Amerika Serikat dan Pakistan, hingga akhirnya Soviet mundur dari Afghanistan pada 1987. Namun, hengkangnya pasukan Soviet pada saat itu masih menyisakan perang saudara yang terus berkecamuk di Afghanistan (antara pemerintah Kabul dan para Mujahidin) selama 1989 hingga 1992.

Saat terpilihnya Burhanuddin Rabbani menjadi presiden di tahun 1993, terjadi kecemburuan di kalangan Mujahidin. Mujahidin dari etnis Pashtun merasa etnis Pashtun yang lebih cocok memimpin Afghanistan daripada Burhanuddin Rabbani yang berasal dari etnis Tajik. Terpecahlah mereka. Pada September 1994 Mujahidin etnis Pashtun membentuk kelompok fundamentalis Islam Taliban dan menyebar lewat kelompok santri etnis Pashtun. Misi mereka adalah menerapkan syariat Islam demi memulihkan keadaan. Inilah yang diperjuangkan Taliban dari dulu hingga kini. Dari sinilah awal mula perjuangan mereka.

Invasi AS dan Misi Demokratisasi yang Gagal

Pasca serangan yang terjadi di WTC pada 11 September 2001 yang telah menewaskan 3000 orang, Presiden Amerika saat itu, George Bush, ingin menuntut balas atas tragedi tersebut. Tuduhan mengarah ke kelompok Al Qaida pimpinan Osama bin Laden. Kurang dari sebulan pasca peristiwa 11 September, AS melancarkan serangan militer besar-besaran ke Afghanistan di bawah tajuk “Operating Enduring Freedom” untuk memburu Osama bin Laden dan kelompoknya. Desember 2001 Afghanistan pun jatuh di bawah kendali AS.

Setelah membawa bendera kemenangan, AS tak segera pergi dari Afghanistan. Ada misi lain yang ingin dicapai, yaitu mengawal proses demokratisasi dan menghalangi penguasaan kembali oleh Taliban. Namun, cara AS menanamkan demokrasi di Afghanistan dilakukan dengan cara menekan rakyat, bukan atas dasar kehendak rakyat. Mereka dipaksa dengan aras senapan. Ini adalah tipikal kebijakan luar negeri Amerika. Ketika mereka ingin menyebarkan ideologinya, segala cara dilakukan agar tujuan tercapai, meski dengan kekerasan sekali pun.

AS selalu menganggap demokrasi sebagai jalan mulia menuju perdamaian, sementara ideologi lain adalah sumber ketidakstabilan dunia. Karena keyakinan itu, AS bertekad membuat negara-negara non-demokratis menjadi demokratis, sekali pun menggunakan sarana militer. Demikian pula yang mereka lakukan pada Afghanistan selama dua puluh tahun.

Tetapi apa yang terjadi? Dua puluh tahun usaha AS menanamkan demokrasi di Afghanistan berbuah sia-sia. AS dalam perang melawan Afghanistan sudah banyak menghabiskan dana sampai dua triliun US Dollar. Demikian juga pasukannya, termasuk pasukan NATO banyak yang terbunuh. Ini menunjukkan bahwa persenjataan yang canggih dan dana yang besar ternyata tidak bisa mengalahkan semangat jihad yang tinggi.

Mencari Dukungan Negara-negara Kapitalis

Setelah berhasil mengendalikan Afghanistan, Taliban melakukan upaya untuk mendapatkan dukungan internasional. Namun sayangnya yang dituju Taliban beberapa di antaranya adalah negeri-negeri kafir penjajah, seperti Cina. Cina pun menyambutnya dengan senyuman. Cina mengapresiasi kunjungan tersebut dan siap menjalin kerja sama di antara mereka. Cina juga menawarkan dukungan investasi untuk rekonstruksi negara yang dilanda perang tersebut.

Mengutip dari tintasiyasi.com (23/8/21), menurut Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana, ia menyangsikan dukungan Cina terhadap Taliban. Menurutnya, Cina memiliki kepentingan di kawasan Asia Tengah untuk proyek OBOR (One Belt One Road) yang sekarang menjadi BRI (Belt and Road Initiative). Melalui BRI Cina akan dapat mengakses sumber-sumber daya energi, termasuk juga akses untuk mengalirkan sumber daya energi itu ke negara-negara Eropa yang kebetulan melewati wilayah Asi Tengah, dan Afghanistan menjadi tempat persinggahan. Karena adanya kepentingan tersebut Cina seolah-olah memberikan dukungan pada Afghanistan, bukan dukungan yang tulus, melainkan karena memang ada kepentingan.

Begitu pula dengan Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan siap mendukung penuh dan melakukan kerja sama dengan Afghanistan. Rusia mengapresiasi Taliban yang berhasil mengambil alih kekuasaan Afghanistan dan mengatakan bahwa Kabul terlihat lebih aman dibanding saat masih dalam kekuasaan pemerintahan boneka AS.

Taliban tampaknya telah lupa dengan perjuangan panjang mereka demi menerapkan syariat Islam. Idealisme itu tampaknya telah luntur karena tergiur iming-iming kerja sama yang ditawarkan oleh negara-negara yang berkepentingan. Hal ini menunjukkan imarah Islamiyah yang disuarakan Taliban masih lemah dan rapuh di mata negara kapitalis. Apalagi dari adanya pergantian kekuasaan di Afghanistan, telah mengungkap kekayaan sumber daya alam dan energi yang melimpah di sana, salah satunya kekayaan mineral tambang yang potensi ekonominya mencapai 1 triliun dollar AS atau setara Rp14.000 triliun dengan kurs Rp14.000. (money.kompas.com, 20/8/2021). Tentu saja ini akan menjadi incaran dan perebutan oleh negara-negara penjajah yang eksploitatif.

Taliban Berkuasa, Tetapi Umat Ketakutan. Ada Apa?

Mundurnya pasukan Militer AS terjadi setelah bernegosiasi dengan Taliban lewat perundingan Doha. Ini adalah salah satu taktik AS karena mereka ingin tetap berupaya mengamankan kepentingannya di Afghanistan dan karena tak mau terlihat malu atas kepulangan yang membawa kekalahan. Peralihan kekuasaan pun terjadi. Namun, beralihnya kekuasaan ke tangan Taliban yang ingin menerapkan syariat Islam dan usaha mendapatkan dukungan internasional ternyata tidak serta merta disambut gembira oleh umat Islam yang ada di sana. Justru media mengabarkan ramainya bandara karena warga Afghanistan berebut pesawat agar bisa membawa mereka pergi ke luar negeri.

Kembali mengutip dari tintasiyasi.com (23/8/2021), Direktur Institut Muslimah Negarawan (IMUNE), Dr. Fika Komara, menilai banyaknya warga Afghanistan yang meninggalkan negaranya karena Islamofobia masih menjadi masalah umat Islam. Media-media sekuler terus melakukan propaganda untuk mencari-cari kelemahan Islam melalui miniatur politik Taliban di Afghanistan. Benar saja, umat Islam di Afghanistan merasa ngeri dengan agamanya sendiri.

Selain itu, dua puluh tahun bukanlah waktu singkat. Kuatnya hegemoni AS telah mengubah pemikiran penduduk Afghanistan. Mereka dijauhkan dari pemahaman agama yang benar dan ide-ide sekuler yang berasal dari Barat terus dijejali. Taliban diinisiasi menjadi organisasi teroris di dunia internasional dan disamakan dengan ISIS. Apalagi sebelum digulingkan oleh invasi pimpinan AS tahun 2001, Taliban memberlakukan syariat Islam kaku dan keras di Afganistan, termasuk melarang anak perempuan bersekolah dan bekerja di luar rumah mereka, atau berada di depan umum tanpa kerabat laki-laki. (dunia.tempo.co, 21/6/2021)

Meskipun Taliban telah memberi pernyataan untuk berubah melalui jumpa pers di media, Sayangnya, komitmen Taliban ini hampir tidak ada gunanya. Ketakutan terhadap penerapan syariat Islam sudah telanjur menjadi opini umum, di-framing oleh media-media besar Barat yang menjadi rujukan informasi bagi hampir semua media massa lainnya di dunia.

Fitnah Media Sekuler dan Propaganda Barat

Upaya untuk menggambarkan Islam melalui penerapan syariat yang buruk di Taliban adalah salah satu bentuk fitnah terhadap Islam dan propaganda negara-negara kafir untuk merepresentasikan citra buruk Islam . Oleh sebab itu, bila ingin mendapatkan informasi yang benar mengenai Islam, hendaknya umat mencari tahu dari sumber media yang amanah, bukan dari media-media setiran Barat seperti yang banyak diberitakan hari ini.

Alasan penulis menyatakan gambaran Islam di Taliban yang diberitakan buruk oleh media sekuler adalah sebuah fitnah karena tiga alasan. 

Pertama, syariat Islam adalah hukum-hukum yang berasal dari Allah untuk diterapkan dan dijadikan solusi dari berbagai problematika kehidupan. Memang terkadang bisa terjadi perbedaan karena kaidah ushul fikih yang digunakan untuk menggali dan menetapkan suatu hukum berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah. Namun, adanya perbedaan dalam masalah cabang ini tidak akan pernah mengantarkan pada perbedaan dalam masalah pokok (akidah). Karena itu di mana pun, Islam adalah satu (sama).

Kedua, dalam sebuah buku yang berjudul “Dari Penjara Taliban Menuju Iman” yang ditulis oleh seorang jurnalis-feminis media BBC asal Inggris, Yvonne Ridley–seorang mualaf dan kini menjadi pembela Islam di Barat–menceritakan kisahnya saat melakukan tugas jurnalistik ke Afganistan. Stereotip tentang Islam dan Taliban yang selama ini dianggapnya buruk, brutal, bengis, dan suka membunuh, ternyata tidaklah benar.  Karena nyatanya selama hidup berdampingan dengan kelompok Taliban di penjara, ia diperlakukan dengan sangat baik, apalagi seorang perempuan, ia mendapatkan perlakuan istimewa.

Mungkin memang benar pernah terjadi diskriminasi terhadap perempuan saat Taliban berusaha menerapkan syariat di Afghanistan. Perempuan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan hingga tragedi Malala yang terus digoreng media Barat. Namun, hal tersebut menurut penulis tidaklah boleh dijadikan standar untuk menilai ajaran Islam. Karena kepemimpinan di Taliban dalam beberapa tahun selalu berubah-ubah, begitu pula kebijakan yang diterapkan.

Sama seperti saat pergantian Khalifah dalam daulah. Ada Khalifah yang menerapkan hukum Islam sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an dan As-Sunnah secara sempurna, maka sejahteralah masyarakatnya, seperti Daulah Khilafah yang dipimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pernah ada pula seorang Khalifah yang tega mencambuk ulama yang lurus. Ini terjadi pada masa Khilafah Abbasiyah yang dipimpin Khalifah Al-Ma’mun. Pemahamannya mengenai agama Islam berlawanan dengan Imam Ahmad bin Hambal karena Khalifah pada masa itu telah terpengaruh ide Barat filsafat dan menganggap Al-Qur’an adalah makhluk.

Dengan demikian, perlu dipahami bahwa syariat Islam tidaklah identik dengan apa yang digambarkan oleh suatu aliran atau kelompok tertentu. Islam bukan Arab, bukan Taliban, ataupun Nusantara. Selama sesuai dengan kaidah penggalian hukum yang benar, itulah yang kita sebut sebagai Islam.

Ketiga, gambaran penerapan syariat yang hendak diterapkan oleh Taliban bukanlah sistem Khilafah yang diajarkan Islam. Hal ini karena Taliban hanya berusaha menerapkan syariat pada level regional dan terbatas di wilayah Afghanistan saja, sedangan Khilafah dalam konsep Islam adalah kepemimpinan Islam yang berlaku bagi seluruh umat muslim di dunia tanpa dibatasi oleh sekat-sekat nasionalisme suatu negara. Jadi, tidak benar bila ada media yang menarasikan Khilafah Taliban, Suriah atau ISIS yang mereka perjuangkan sama dengan Khilafah dalam konsep Islam sesungguhnya. Taliban hanya menerapkan Islam secara terbatas sebagaimana penerapan Islam di Aceh.

Hanya Metode Perjuangan Rasulullah yang Mampu Mengantarkan pada Kemenangan Hakiki

Dalam kitab Nizhamul Islam yang ditulis oleh Syekh Taqiyuddin An-Nabhani di bab Tata Cara Mengemban Dakwah Islam, beliau menjabarkan bagaimana umat Islam bisa mengalami kemunduran dari posisinya sebagai pemimpin dunia. Salah satu sebabnya karena membiarkan peradaban asing masuk menyerbu negeri-negeri umat Islam, dan membiarkan ide-ide Barat bercokol dalam benak mereka.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.” (TQS. Ali Imran [3]:118)

Maka, benarlah firman Allah di atas bahwa cukuplah berpegang teguh pada agama Allah dan jangan pernah meminta bantuan atau bernegosiasi dengan orang-orang kafir. Menjadikan metode perjuangan Rasulullah sebagai suri tauladan dan tidak boleh sedikit pun berpaling dari metode tersebut. Karena menegakkan negara Islam sejalan harus diiringi edukasi ke tengah-tengah masyarakat agar mereka memahami pentingnya penerapan syariat Islam secara kafah. Dari dukungan masyarakatlah kekuasaan itu akan langgeng karena mereka juga turut menjaganya.

Perjuangan Taliban selama ini hanya akan menjadi percuma karena ketidakjelasan fikrah dan metode perjuangan untuk mendirikan negara Islam. Percuma saja bila penerapan syariat Islam hanya sebatas klaim tetapi faktanya yang dijalankan adalah ide-ide Barat. Taliban tidak akan pernah bisa mewujudkan penerapan syariat Islam bila masih mudah terjebak dan terpengaruh dalam berbagai negosiasi ataupun tawaran kerja sama dengan negara-negara kapitalis.

Seharusnya Taliban mencontoh metode perjuangan Rasulullah Saw. yang telah terbukti berhasil mendirikan negara dengan menerapkan syariat Islam secaea kafah. Langkah-langkah yang dilakukan Rasulullah dibagi dalam tiga tahapan, yaitu pengaderan; interaksi bersama umat—termasuk di dalamnya mencari dukungan dan pertolongan; dan terakhir penerimaan kekuasaan dari pemilik kekuasaan. Inilah yang dilakukan Rasulullah saat mendirikan negara Islam pertama di Madinah.

Penerapan syariat Islam oleh Khilafah tidak hanya akan menyatukan masyarakat dalam tataran regional, melainkan skala global. Daulah akan menyatukan negeri-negeri muslim di dunia menjadi satu kesatuan yang diikat dengan ikatan yang kuat, yaitu ikatan akidah. Perjuangan inilah yang akan mampu menjadi harapan umat Islam untuk menyongsong peradaban gemilang, melanjutkan kehidupan Islam yang membawa perdamaian dan keberkahan bagi seluruh dunia.

Wallahualam bissawab

{*Penulis adalah aktivis muslimah}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *