KPK Ajukan RedNotice Untuk Kejar Harun Masiku Yang Masih Buron

Jakarta, Komandonews – Rabu (3/6/2921) KPK telah mengajukan Red Notice untuk memburu buronan Harun Masiku Kader PDIP salah satu tersangka suap kepada Komisioner KPU Wahyu Setiawan beberapa waktu lalu

Wakil ketua KPK Lily Pintauli Siregar bersama Dirdik KPK Setyo Budiyanto dalam keterangan persnya mengatakan , pihak KPK bekerja sama dengan instansi lain terus memburu Harun Masiku .
DPO pun telah dikeluarkan sejak 17 Januari 2020 lalu diikuti dengan permohonan pencegahan ke imigrasi sebanyak 2 kali.

” Kalau pencarian Hms tentu KPK akan tetap mencari, tidak tergantung lagi.. karena kpk bekerja dengan sistem dan dengan organisasi bukan perorangan. Kita sudah terbitkan red notice untuk HMS ini. Kita pasti terus lakukan pencarian dan mengejarnya dan kita bekerja sama dengan instansi lain dan internal KPK.” Kata Lily Pintauli Siregar di gedung KPK ,Rabu (3/6/2021).

” DPO sudah terbit 17 Januari 2020 kemudian ada pencegahan sampai dua kali. Di antara proses itu, namanya mencari berusaha mengetahui posisi tentu itu gak pernah dikasihkan kecuali kegiatan yang sifatnya terbuka. ” Ujar Setyo Budiyanto menambahkan.

Setahun lebih sejak Januari 2020 lalu KPK masih memburu Harun Masiku yang hingga kini masih belum diketahui dimana keberadaannya. Bahkan terkait Raibnya Harun membuat Ronie Sompie dicopot jabatannya sebagai Dirjen Imigrasi .

Harun disangkakan oleh KPK pasca OTT , karena diduga menyuap komisioner KPU Wahyu Setiawan dan mantan  anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina melalui seseorang bernama Saeful Bahri.

Suap suap sebesar SGD19 ribu  dan SGD38,ribu  atau setara total Rp 600 juta tersebut diberikan agar Wahyu dapat mengupayakan KPU menyetujui permohonan pergantian antarwaktu anggota DPR Daerah Pemilihan Sumatera Selatan I yakni Riezky Aprilia oleh Harun Masiku.

Wahyu, Agustiani, dan Saeful dinilai telah terbukti bersalah dan menjadi narapidana.
Wahyu dipidana 6 tahun penjara, Agustiani 4 tahun penjara, sedangkan Saeful dipidana 1 tahun 8 bulan penjara.

(Supriyarto Rudatin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *