Pengusaha Merek FDX Keberatan Terhadap Dirjen HKI Sahkan Merek Karena Ada Kesamaan

JAKARTA Komandonews – Pengusaha Merek FDX permasalahkan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang menolak pengesahan merek karena ada kesamaan dalam merek tersebut.

Kuasa Hukum merek FDX Salim Halim mengatakan, kliennya telah terlebih dahulu mendaftarkan ke Dirjen Merek atau HKI Kemenkumham dengan selisih pendaftaran belasan hari saja dengan pihak lain.

“Saya merasa keberatan terhadap permohonan merek, yang pertama yang diajukan oleh pihak lain yaitu FDX dan FDX Oil, yang mana dia daftar dengan etika tidak baik. Karena klien saya juga daftar dengan merek yang sama, FDX dan beliau belakangan daftar FDX dan FDX Oil,” ucap Salim dalam Forum Diskusi Hukum, Penegakan Hukum Pidana Merek di Indonesia kepada wartawan di Hotel Grand Mercure Jakarta, yang diikuti oleh Gresnews.com, Jum’at (23/4/2021).

Menurut Salim, pertama, ini ada unsur-unsur tertentu sehingga permohonan kliennya di Direktorat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) itu terdapat penolakan dari yang pertama FDX Oil dan kliennya FDX.

Sementara menurut Kasubdit Pencegahan dan Penyelesaian Sengketa, Direktorat Penyidikan dan Penyelesaian Sengketa, Direktorat Jenderal Kekayaan
Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM RI, Ahmad Rifandi, merek itu dikatakan mempunyai persamaan pada pokoknya yaitu pertama, fonetik, kedua, persamaan konseptual, dan ketiga, persamaan visual.

Ketiga unsur ini bisa melihat FDX dengan FDX tidak mempunyai unsur yang sama, atau dikatakan mempunyai persamaan pada pokonya, apa lagi dengan warna dan logo yang berbeda kata Rifandi dalam diskusi.

Dari pernyataan tersebut, kata Salim, pihaknya sangat keberatan terhadap HKI yang mengatakan memiliki persamaan.

“Inilah yang kami keberatan di Direktorat HKI. Sudah kami mengajukan keberatan tetapi Direktorat HKI tetap menganggap merek klien kami mempunyai persamaan pada pokonya dengan Defas FDX Oil dengan FDX,” jelas Salim.

Menurutnya, merek milik klienya bahkan telah beredar setahun dan mengaku kaget karena saat akan mengambil sertifikat justru surat penolakan yang didapat.

Untuk itu pihaknya akan menempuh jalur hukum terkait kejanggalan dalam proses pendaftaran dan pengesahan merek di Kementrian Hukum dan Ham tersebut.

Saya selaku praktis hukum, saya melihat perkembangan tindak pidana merek di Indonesia belakangan ini sangat ruwet dan sangat menakutkan dan membuat trauma bagi pengusaha, sehingga tujuan saya hari ini mengadakan forum diskusi tindak pidana merek karena saya juga didukung oleh pengusaha terutama yang pemilik merek FDX yang pemiliknya Bapak Andi dan bersama saya saat ini.

Nah kenapa hari ini, saya mengadakan forum diskusi tentang tindak pidana merek, karena klien saya ada kekhawatiran tentang penggunaan merek FDX yang sebetulnya kliennya lebih duluan memakainya didalam UU merek itu ada Azad namanya first tiva dan first to you.

Nah kalo dari kacamata saya dan dari bukti yang saya dapat dari keterangan klien saya, klien saya ini sebagai first to uses dalam kaitan ini ada sedikit permasalahan dengan merek Devas Oil FDX dan FDX.

Nah saya merasa keberatan terhadap permohonan merek yang pertama yang diajukan oleh pihak lain yaitu FDX dan FDX Oil yang mana dia daftar dengan etika tidak baik, karena kliennya juga daftar dengan merek yang sama, FDX dan beliau belakangan daftar FDX dan FDX Oil.

Nah menurut saya ini ada unsur-unsur tertentu sehingga permohonan kami di Direktorat hak kekayaan intelektual itu terdapat penolakan dari yang pertama FDX Oil dan klien kami FDX, Itu yang pertama,”ujar salim

Yang saya melihat permohonan merek yang tadi saya bilang itu, tidak mempunyai kesamaan pada pokoknya. Kita bisa buktikan dengan merek-merek yang lainnya atau pun tadi sudah di bicarakan atau dipaparkan narasumber Ahmad Rifandi, merek itu dikatakan mempunyai punya persamaan pada pokoknya yaitu pertama, Fonetik, persamaan Konseptual, dan persamaan Visual.

Ketiga unsur ini bisa melihat FDX dengan FDX tidak mempunyai unsur yang sama, atau dikatakan mempunyai persamaan pada pokonya.
Apalagi dengan warna dan logo yang berbeda.

Inilah yang kami keberatan di direktorat HKI. Sudah kami mengajukan keberatan tetapi direktorat HKI tetap menganggap merek klien kami mempunyai persamaan pada pokonya dengan Devas FDX Oil dengan FDX.

Ini sudah kami proses ke komisi bundling merek. Yang lebih celaka lagi pihak lawan mendaftarkan merek FDX dan FDX Oil yang sama dengan merek klien kami.

First to fall. First to fall itu artinya duluan daftar. Jadi kita sudah daftar duluan walaupun itu katakan masih posisi ditolak. Tapi belum ditolak final masih punya daya hukum, masih punya upaya hukum.

Dengan didaftarkan nya FDX dengan orang yang sama yang pemilik merek Devas FDX Oil maka saya melihat disitu ada unsur etika tidak baik dan kenapa oposisi kami dalam permohonannya begitu dia mendaftarkan lalu diumumkan kami oposisi kan, kami keberatan secara hukum tadi itu sebetulnya tidak bisa diproses dulu karena mereka pasti sama.

Kami tidak mengerti, direktorat HKI, direktorat merek menolak posisi kami. Dengan alasan satu, merek FDX dengan FDX dan FDX dengan FDX ada dua yang tidak mempunyai pada pokonya. Katanya itu beda.

Saya tidak mengerti, saya praktisi sudah hampir 20 tahun lebih, baru pertama kali ketemu, yang dikatakan FDX dengan FDX itu beda. Pertanyaan saya tadi dia tolak klien kami, Devas FDX Oil dengan FDX itu dikatakan nya mirip. Itu tolong dijadikan perhatian HKI, khususnya direktorat merek.

(AR.Gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *